ARTIKEL
KOMUNIKASI BISNIS
PERAN
PENTING KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA
Dosen
:
Moh.
Agung Surianto, S.E, MSM

Disusun
oleh :
Dita
Dwi Aprilia (11-311-028)
PRODI
MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH GRESIK
2013
PERAN PENTING KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA
Komunikasi
Kata atau istilah komunikasi (dari bahasa Inggris
“communication”),secara etimologis atau menurut asal katanya adalah dari bahasa
Latin communicatus, dan perkataan ini bersumber pada kata communis Dalam kata
communis ini memiliki makna ‘berbagi’ atau ‘menjadi milik bersama’ yaitu suatu
usaha yang memiliki tujuan untuk kebersamaan atau kesamaan makna (Onong Uchjana
Effendy : 2005, 9-10). Jadi, Komunikasi adalah suatu proses penyampaian
informasi (pesan, ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain. Pada
umumnya, komunikasi dilakukan secara lisan atau verbal yang dapat dimengerti
oleh kedua belah pihak. Apabila tidak ada bahasa verbal yang dapat dimengerti
oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan menggunakan gerak-gerik
badan, menunjukkan sikap tertentu, misalnya tersenyum, menggelengkan kepala,
mengangkat bahu. Cara seperti ini disebut komunikasi nonverbal.
Menurut Carl I. Hovland ilmu komunikasi adalah upaya
yang sistematis untuk merumuskan secara tegar asas-asas penyampaian informasi
serta pembentukan pendapat dan sikap. Komunikasi
adalah proses mengubah perilaku orang lain (communication is the process to
modify the behavior of other individuals).Berdasarkan paragdima Lasswell
tersebut, komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada
komunikan melalui media yang menimbulkan efek tertentu.
Komunikasi
itu penting, semua orang tahu, karena ini merupakan basic instinct dari setiap
makhluk hidup. Setiap makhluk punya cara komunikasi masing-masing, setiap
manusia pun tak lepas dari cara dia melakukan komunikasi. Kita tak bisa
membeda-bedakan bahasa, suku, adat, kebiasaan, tradisi maupun agama karena pada
dasarnya berkomunikasi, menyampaikan pesan itu asal dilakukan dengan baik dan
benar, serta dalam keadaan saling terbuka, fikiran jernih tanpa sentimen dan
perasaan negatif, pasti maksud yang ingin disampaikan dapat diterima.
Komunikasi
Antar Budaya
Liliweri (2004: 9-15) mengemukakan
bahwa komunikasi antarbudaya sendiri dapat dipahami sebagai pernyataan diri
antar pribadi yang paling efektif antara dua orang yang saling berbeda latar
belakang budaya. Dalam rangka memahami kajian komunikasi antarbudaya maka kita
mengenal beberapa asumsi, yaitu:
1. Komunikasi antarbudaya dimulai dengan anggapan
dasar bahwa ada perbedaan persepsi antara komunikator dengan komunikan.
2. Dalam komunikasi antarbudaya terkandung isi
dan relasi antarpribadi.
3. Gaya personal mempengaruhi komunikasi
antarpribadi.
4. Komunikasi antarbudaya bertujuan mengurangi
tingkat ketidakpastian.
5. Komunikasi berpusat pada kebudayaan.
6. Efektivitas antarbudaya merupakan tujuan
komunikasi antarbudaya.
Mengutip pendapat Habermas, bahwa
dalam setiap proses komunikasi (apapun bentuknya) selalu ada fakta dari semua
situasi yang tersembunyi di balik para partisipan komunikasi. Menurutnya,
beberapa kunci iklim komunikasi dapat ditunjukkan oleh karakteristik antara
lain; suasana yang menggambarkan derajat kebebasan, suasana dimana tidak ada
lagi tekanan kekuasaan terhadap peserta komunikasi, prinsip keterbukaan bagi
semua, suasana yang mampu memberikan komunikator dan komunikan untuk dapat
membedakan antara minat pribadi dan minat kelompok. Dari sini bisa disimpulkan
bahwa iklim komunikasi antarbudaya tergantung pada 3 dimensi, yakni perasaan
positif, pengetahuan tentang komunikan dan perilaku komunikator (Liliweri,
2004: 48).
Menurut Samovar dan Porter, untuk mengkaji
komunikasi antarbudaya perlu dipahami hubungan antara kebudayaan dengan
komunikasi. Melalui pengaruh budayalah manusia belajar komunikasi, dan
memandang dunia mereka melalui kategori-kategori, konsep-konsep, dan
label-label yang dihasilkan kebudayaan. Kemiripan budaya dalam persepsi
memungkinkan pemberian makna yang mirip pula terhadap suatu objek sosial atau
peristiwa. Cara-cara manusia berkomunikasi, keadaan berkomunikasi, bahkan
bahasa dan gaya bahasa yang digunakan, perilaku-perilaku non-verbal merupakan
respons terhadap dan fungsi budaya (Liliweri, 2001: 160).
Dalam komunikasi antarbudaya, juga
penting mencapai apa yang komunikator dan komunikan harapkan yaitu komunikasi
efektif. Komunikasi yang efektif tergantung pada tingkat kesamaan makna yang
didapat partisipan yang saling bertukar pesan. Fisher berpendapat, untuk
mengatakan bahwa makna dalam komunikasi tidak pernah secara total sama untuk
semua komunikator, adalah dengan tidak mengatakan bahwa komunikasi adalah
sesuatu yang tak mungkin atau bahkan sulit tapi karena komunikasi tidak
sempurna (Gudykunst dan Kim, 2003: 269-270).
Jadi
untuk mengatakan bahwa dua orang berkomunikasi secara efektif maka keduanya
harus meraih makna yang relatif sama dari pesan yang dikirim dan diterima
(mereka menginterpretasikan pesan secara sama). Sedangkan komunikasi yang tidak
efektif dapat terjadi karena berbagai alasan ketika kita berkomunikasi dengan
orang lain. Kita mungkin tidak mengirim pesan kita dengan cara yang dapat
dipahami oleh orang lain atau orang lain mungkin salah menginterpretasikan apa
yang kita katakan atau keduanya dapat terjadi secara bersamaan. Masalahnya
dapat terjadi karena pengucapan, tata bahasa, kesamaan dengan topik yang sedang
didiskusikan atau kesamaan dengan bahasa asli orang lain tersebut, bahkan
faktor sosial. Misalnya kita mengerti mereka karena mereka menggunakan bahasa
kita tapi kita sendiri tidak mengerti bahasa mereka. Bahkan ketika
berkomunikasi dengan orang lain dan mendasarkan interpretasi kita pada sistem
kita maka komunikasi yang tidak efektiflah yang terjadi. Kesimpulannya,
komunikasi yang efektif dalam berkomunikasi dengan orang lain kita harus penuh
perhatian dan sadar. Sebagai komunikator yang kompeten, berkomunikasi secara
efektif dan tepat merupakan aspek penting untuk diamati. Kita bisa
berkomunikasi secara efektif walaupun kita tidak dilihat sebagai komunikator
yang kompeten (Gudykunst dan Kim, 2003:270-271). Dalam komunikasi antarbudaya
tentunya perbedaan budaya menjadi tantangan untuk mencapai komunikasi yang efektif
dan untuk itu penting bagi partisipan mengetahui identifikasi bersama
(homofili).
Karakteristik Komunikasi Lintas Budaya
1.
Komunikasi dan bahasa
Sistem
komunikasi, verbal dan non- verbal, satu unsur yang membedakan satu kelompok
dengan kelompok lainnya. Ada sekitar 15 bahasa utama atau lebih dan tiap
–tiapnya terdapat dialek, logat, jargon dan ragam lainnya. Belum lagi gerak
gerik bahasa tubuh yang mingkin universal namun beda makna secara lokal atau
kultural.
2.
Pakaian dan penampilan
Meliputi pakaian,
perhiasan dan dandanan. Pakaian ini akan menjadi ciri yang menandakan seseorang
berasal dari daerah mana. Atau ciri lukisan pada muka dan badan orang Papua
atau orang Indian yang ada saat akan berperang menandakan keberanian.
3.
Makanan dan kebiasaan makan
Ciri ini
menyangkut hal dalam pemilihan, penyajian, dan cara makan. Dilarangnya seorang
muslim untuk mengkonsumsi daging babi, tidak berlaku bagi mereka orang Cina.
Orang Sunda terkesan senang makan tanpa alat sendok (tangan saja) akan terlihat
kurang sopan bagi mereka orang – orang barat.
4.
Waktu dan kesadaran akan waktu
Hal ini
menyangkut pandangan orang akan waktu. Sebagian orang tepat waktu dan sebagian
lain berpandangan merelatifkan waktu. Ada orang yang tidak mempedulikan jam
atau menit tapi hanya menandai waktunya dengan saat matahari terbit atau saat
matahari terbenam saja
5.
Penghargaan dan Pengakuan
Suatu cara
untuk mengamati suatu budaya adalah dengan memperhatikan cara dan metode
memberikan pujian bagi perbuatan-perbuatan baik dan berani, lama pengabdian
atau bentuk-bentuk lain penyelesaian tugas.
6.
Hubungan-Hubungan
Budaya juga
mengatur hubungan-hubungan manusia dan hubungan-hubungan organisasi berdasarkan
usia, jenis kelamin, status, kekeluargaan, kekayaan, kekuasaan, dan
kebijaksanaan.
7.
Nilai dan Norma
Berdasarkan
sistem nilai yang dianutnya, suatu budaya menentukan norma-norma perilaku bagi
masyarakat yang bersangkutan. Aturan ini bisa berkenaan dengan berbagai hal,
mulai dari etika kerja atau kesenangan hingga kepatuhan mutlak atau kebolehan
bagi anak-anak; dari penyerahan istri secara kaku kepada suaminya hingga
kebebasan wanita secara total.
8.
Rasa Diri dan Ruang
Kenyamanan
yang dimiliki seseorang atas dirinya bisa diekspresikan secara berbeda oleh
masing-masing budaya. Beberapa budaya sangat terstruktur dan formal, sementara
budaya lainnya lebih lentur dan informal. Beberapa budaya sangat tertutup dan
menentukan tempat seseorang secara persis, sementara budaya-budaya lain lebih
terbuka dan berubah.
9.
Proses mental dan belajar
Beberapa
budaya menekankan aspek perkembangan otak ketimbang aspek lainnya sehingga
orang dapat mengamati perbedaan-perbedaan yang mencolok dalam cara orang-orang
berpikir dan belajar.
10.
Kepercayaan dan sikap
Semua budaya tampaknya
mempunyai perhatian terhadap hal-hal supernatural yang jelas dalam agama-agama
dan praktik keagamaan atau kepercayaan mereka.
Budaya
Budaya adalah suatu cara hidup yang
berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari
generasi ke generasi.Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian
tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya
diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan
menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.
Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak,
dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif.
Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial
manusia.
Beberapa alasan mengapa orang
mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain terlihat
dalam definisi budaya: Budaya adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang
dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya
sendiri.”Citra yang memaksa” itu mengambil bentuk-bentuk berbeda dalam berbagai
budaya seperti “individualisme kasar” di Amerika, “keselarasan individu dengan alam” di Jepang dan “kepatuhan kolektif” di Cina.
Citra budaya yang bersifat memaksa
tersebut membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang
layak dan menetapkan dunia makna dan nilai logis yang dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling
bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka.
Dengan belajar memahami komunikasi antarbudaya berarti memahami realitas budaya
yang berpengaruh dan berperan dalam komunikasi. Kita dapat melihat bahwa proses
perhatian komunikasi dan kebudayaan yang terletak pada variasi langkah dan cara
berkomunikasi yang melintasi komunitas atau kelompok manusia. Fokus perhatian
studi komunikasi dan kebudayaan juga meliputi bagaimana menjajaki makna,
pola-pola tindakan, juga tentang bagaimana makna dan pola-pola itu
diartikulasikan ke dalam sebuah kelompok sosial, kelompok budaya, kelompok
politik, proses pendidikan, bahkan lingkungan teknologi yang melibatkan
interaksi manusia (Liliweri, 2004: 10).
Menurut Ting Toomey, budaya sebagai komponen
dari usaha manusia untuk bertahan hidup (survive) dan berkembang dalam
lingkungan partikular mereka, memiliki beberapa fungsi, yaitu: Identity
Meaning Function yaitu budaya memberikan kerangka referensi untuk menjawab
pertanyaan paling mendasar dari keberadaan manusia ‘siapa saya’, Group
Inclusion Function yaitu budaya menyajikan fungsi inklusi dalam kelompok
yang bisa memuaskan kebutuhan seseorang terhadap afiliasi keanggotaan dan rasa
ikut memiliki, Intergroup Boundary Regulation Function yaitu fungsi
budaya sebagai pembentuk sikap seseorang tentang in-group dan out-group
berkaitan dengan orang yang secara kultural tidak sama, The Ecological
Adaptation Function yaitu fungsi budaya dalam memfasilitasi proses-proses
adaptasi di antara diri, komunitas kultural dan lingkungan yang lebih besar, The
Cultural Communication Function yaitu koordinasi antara budaya dengan
komunikasi, budaya mempengaruhi komunikasi dan komunikasi mempengaruhi budaya.
Ringkasnya, budaya diciptakan, dibentuk, ditransmisikan dan dipelajari melalui
komunikasi; sebaliknya praktik-praktik komunikasi diciptakan, dibentuk dan
ditransmisikan melalui budaya (Rahardjo, 2005: 49-51).
Menurut Kim, asumsi yang mendasari
batasan tentang komunikasi antarbudaya adalah bahwa individu-individu yang
memiliki budaya yang sama pada umumnya berbagi kesamaan-kesamaan dalam
keseluruhan latar belakang pengalaman mereka daripada orang yang berasal dari
budaya yang berbeda. Dengan memberikan penekanan baik kepada
perbedaan-perbedaan kultural yang sesungguhnya maupun perbedaan-perbedaan
kultural yang dipersepsikan antara pihak-pihak yang berkomunikasi, maka
komunikasi antarbudaya menjadi sebuah perluasan bagi studi komunikasi
antarpribadi, komunikasi organisasi dan kawasan-kawasan studi komunikasi antarmanusia
lainnya. Jadi komunikasi antarbudaya merujuk pada fenomena komunikasi dimana
partisipan yang berbeda latar belakang kultural menjalin kontak satu sama lain
secara langsung maupun tidak langsung. Ketika komunikasi antarbudaya
mempersyaratkan dan berkaitan dengan kesamaan-kesamaan dan perbedaan-perbedaan
kultural antara pihak-pihak yang terlibat maka karakteristik-karakteristik
kultural dari para partisipan bukan merupakan fokus studi. Titik perhatian dari
komunikasi antarbudaya adalah proses komunikasi antara individu dengan individu
dan kelompok dengan kelompok (Rahardjo, 2005: 53-54).
Jadi melalui budaya kita bertukar dan
belajar banyak hal, karena pada kenyataannya siapa kita adalah realitas budaya
yang kita terima dan pelajari. Untuk itu, saat komunikasi menuntun kita untuk
bertemu dan bertukar simbol dengan orang lain, maka kita pun dituntut untuk
memahami orang lain yang berbeda budaya dan perbedaan itu tentu menimbulkan
bermacam kesukaran dalam kelangsungan komunikasi yang terjalin. Memahami budaya yang berbeda dengan kita juga
bukanlah hal yang mudah, dimana kita dituntut untuk mau mengerti realitas
budaya orang lain yang membuat ada istilah ‘mereka’ dan ‘kita’ dalam situasi
seperti itulah manusia dituntut untuk mengungkap identitas orang lain. Dalam
kegiatan komunikasi, identitas tidak hanya memberikan makna tentang pribadi
individu, lebih dari itu identitas menjadi ciri khas sebuah kebudayaan yang
melatarbelakanginya. Dari ciri khas itulah nantinya kita dapat mengungkapkan
keberadaan individu tersebut. Dalam artian sederhana, yang dimaksud dengan
identitas budaya adalah rincian karakteristik atau ciri-ciri sebuah kebudayaan
yang dimiliki oleh sekelompok orang yang kita ketahui batas-batasnya tatkala
dibandingkan dengan karakteristik atau ciri-ciri kebudayaan orang lain
(Liliweri, 2003: 72).
Indonesia
sebagai negara kepulauan, dikenal luas sebagai bangsa yang terdiri dari sekitar
300 suku bangsa yang memiliki identitas kebudayaan masing- masing. Penduduk
Indonesia tentunya terdiri dari berbagai suku bangsa yang memiliki daerah asal
dan kebudayaannya sendiri dan telah berakar sejak berpuluh-puluh tahun yang
silam. Keberagaman suku dan budaya yang ada di Indonesia menjadi salah satu
ciri khas masyarakat Indonesia. Sehingga dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara kita tidak terlepas dari adanya benturan-benturan perbedaan
kebudayaan antara satu daerah dengan daerah lain, suatu kelompok masyarakat
dengan kelompok masyarakat lainnya, hingga benturan kebudayaan antara
masing-masing individu dengan latar belakang adat istiadat, budaya dan
nilai-nilai yang berbeda pula. Masing-masing etnis yang ada di Indonesia tentu
memiliki keunikan dan kekhasan masing-masing, salah satunya adalah etnis
Minangkabau. Salah satu hal yang membuatnya unik dalam kajian komunikasi
antarbudaya ini adalah budaya merantau. Dimana setiap perantau ketika melakukan
interaksi akan mendapati perbedaan-perbedaan budaya mereka dengan budaya di
lingkungan perantauannya dan mereka selalu dituntut untuk tetap bisa
mempertahankan identitas budaya mereka sebagai bagian dari etnis Minangkabau
yang lebih lanjut disebut orang Minang.
Pentingnya
Komunikasi Lintas Budaya
Dengan melihat perkembangan atau tren yang ada saat ini, komunikasi bisnis
lintas budaya sangat penting artinya bagi terjalinnya harmonisasi bisnis di
antara mereka. Bagaimanapun diperlukan suatu pemahaman bersama antara dua orang
atau lebih dalam melakukan komunikasi lintas budaya, baik melalui tulisan
maupun lisan. Semakin banyaknya pola kerja sama maupun kesepakatan ekonomi di
berbagai kawasan dunia saat ini akan menjadikan komunikasi bisnis lintas budaya
semakin penting.
Pendek kata, dengan semakin
terbukanya peluang perusahaan multinasional masuk ke wilayah suatu negara dan
didorong dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi komunikasi dan
informasi, maka pada saat itulah kebutuhan akan komunikasi bisnis lintas Budaya
menjadi semakin penting artinya.
Komunikasi dengan Orang yang
Berbudaya Asing
1.
Belajar Tentang Budaya
Ketika tinggal di negara lain alangkah baiknya seseorang sedikit banyak
mengenal budaya maupun adat istiadat yang berlaku dinegara tersebut. Mengenal
beberapa kata bahasa asing untuk seatu pergaulan di lingkuang bisnis merupakan
langkah baik yang senantiasa perlu dikembangkan. Jadi belajar tentang budaya negara
lain juga bisa dijadikan sebagai langkah awal untuk berkomunikasi dengan orang
yang berbudaya asing.
2.
Mengembangkan Ketrampilan Komunikasi
Lintas Budaya
Mempelajari apa yang dapat dilakukan oleh seorang tentang budaya tertentu
sebenarnya merupakan cara yang baik untuk menemukan bagaiman mengirim dan
menerima pesan-pesan lintas budaya secara efektif. Mempelajari ketrampilan komunikasi lintas budaya pada
umumnya akan membantu seseorang beradaptasidalam setiap budaya, khususnya jika
seseorang berhubungan dengan orang lain yang memiliki budaya berbeda.
3.
Negosiasi Lintas Budaya
Membedakan budaya dalam dua kelompok yaitu budaya permukaan (surface
culture) seperti makanan, liburan, gaya hidup, dan buday tinggi (deep culture),
yang terdiri atas sikap nilai-nilai yang menjadi dasar budaya tersebut. Orang yang berasal dari budaya yang berbeda seringkali
mempunyai pendekatan negosiasi yang berbeda. Tingkat toleransi untuk suatu
ketidaksetujuan pun bervariasi. Seseorang harus dapat menumbuhkan hubungan
personal sebagai dasar membangun kepercayaan dalam proses negosiasi. Negosiator dari budaya yang berbeda mungkin
menggunakan teknik pemecahan masalah dan metode pengambilan keputusan yang
berbeda. Jika mempelajari budaya partner sebelum bernegosiasi, akan lebih mudah
untuk dapat memahami pandangan mereka. Menunjukkan sikap yang luwes, hormat,
sabar dan sikap bersahabat akan membawa pengaruh yang baik bagi proses
negosiasi yang sedang berjalan, yang pada akhirnya dapat ditemukan solusi yang
menguntungkan kedua belah pihak.
DAFTAR PUSTAKA
Effendy, Onong
Uchjana, Ilmu Komunikasi, Djilid 19, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2005.
Liliweri, Alo,
Strategi Komunikasi Masyarakat, LkiS, 2004.
Gudykunst, B
Wiliam, Cross Cultural and Intercultural Communication, 2003.
Purwanto, Djoko,
Komunikasi Bisnis, Edisi Ketiga, Eirlangga, Surakarta, 2006


ARTIKEL
KOMUNIKASI BISNIS
PERAN
PENTING KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA
Dosen
:
Moh.
Agung Surianto, S.E, MSM

Disusun
oleh :
Dita
Dwi Aprilia (11-311-028)
PRODI
MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH GRESIK
2013
PERAN PENTING KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA
Komunikasi
Kata atau istilah komunikasi (dari bahasa Inggris
“communication”),secara etimologis atau menurut asal katanya adalah dari bahasa
Latin communicatus, dan perkataan ini bersumber pada kata communis Dalam kata
communis ini memiliki makna ‘berbagi’ atau ‘menjadi milik bersama’ yaitu suatu
usaha yang memiliki tujuan untuk kebersamaan atau kesamaan makna (Onong Uchjana
Effendy : 2005, 9-10). Jadi, Komunikasi adalah suatu proses penyampaian
informasi (pesan, ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain. Pada
umumnya, komunikasi dilakukan secara lisan atau verbal yang dapat dimengerti
oleh kedua belah pihak. Apabila tidak ada bahasa verbal yang dapat dimengerti
oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan menggunakan gerak-gerik
badan, menunjukkan sikap tertentu, misalnya tersenyum, menggelengkan kepala,
mengangkat bahu. Cara seperti ini disebut komunikasi nonverbal.
Menurut Carl I. Hovland ilmu komunikasi adalah upaya
yang sistematis untuk merumuskan secara tegar asas-asas penyampaian informasi
serta pembentukan pendapat dan sikap. Komunikasi
adalah proses mengubah perilaku orang lain (communication is the process to
modify the behavior of other individuals).Berdasarkan paragdima Lasswell
tersebut, komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada
komunikan melalui media yang menimbulkan efek tertentu.
Komunikasi
itu penting, semua orang tahu, karena ini merupakan basic instinct dari setiap
makhluk hidup. Setiap makhluk punya cara komunikasi masing-masing, setiap
manusia pun tak lepas dari cara dia melakukan komunikasi. Kita tak bisa
membeda-bedakan bahasa, suku, adat, kebiasaan, tradisi maupun agama karena pada
dasarnya berkomunikasi, menyampaikan pesan itu asal dilakukan dengan baik dan
benar, serta dalam keadaan saling terbuka, fikiran jernih tanpa sentimen dan
perasaan negatif, pasti maksud yang ingin disampaikan dapat diterima.
Komunikasi
Antar Budaya
Liliweri (2004: 9-15) mengemukakan
bahwa komunikasi antarbudaya sendiri dapat dipahami sebagai pernyataan diri
antar pribadi yang paling efektif antara dua orang yang saling berbeda latar
belakang budaya. Dalam rangka memahami kajian komunikasi antarbudaya maka kita
mengenal beberapa asumsi, yaitu:
1. Komunikasi antarbudaya dimulai dengan anggapan
dasar bahwa ada perbedaan persepsi antara komunikator dengan komunikan.
2. Dalam komunikasi antarbudaya terkandung isi
dan relasi antarpribadi.
3. Gaya personal mempengaruhi komunikasi
antarpribadi.
4. Komunikasi antarbudaya bertujuan mengurangi
tingkat ketidakpastian.
5. Komunikasi berpusat pada kebudayaan.
6. Efektivitas antarbudaya merupakan tujuan
komunikasi antarbudaya.
Mengutip pendapat Habermas, bahwa
dalam setiap proses komunikasi (apapun bentuknya) selalu ada fakta dari semua
situasi yang tersembunyi di balik para partisipan komunikasi. Menurutnya,
beberapa kunci iklim komunikasi dapat ditunjukkan oleh karakteristik antara
lain; suasana yang menggambarkan derajat kebebasan, suasana dimana tidak ada
lagi tekanan kekuasaan terhadap peserta komunikasi, prinsip keterbukaan bagi
semua, suasana yang mampu memberikan komunikator dan komunikan untuk dapat
membedakan antara minat pribadi dan minat kelompok. Dari sini bisa disimpulkan
bahwa iklim komunikasi antarbudaya tergantung pada 3 dimensi, yakni perasaan
positif, pengetahuan tentang komunikan dan perilaku komunikator (Liliweri,
2004: 48).
Menurut Samovar dan Porter, untuk mengkaji
komunikasi antarbudaya perlu dipahami hubungan antara kebudayaan dengan
komunikasi. Melalui pengaruh budayalah manusia belajar komunikasi, dan
memandang dunia mereka melalui kategori-kategori, konsep-konsep, dan
label-label yang dihasilkan kebudayaan. Kemiripan budaya dalam persepsi
memungkinkan pemberian makna yang mirip pula terhadap suatu objek sosial atau
peristiwa. Cara-cara manusia berkomunikasi, keadaan berkomunikasi, bahkan
bahasa dan gaya bahasa yang digunakan, perilaku-perilaku non-verbal merupakan
respons terhadap dan fungsi budaya (Liliweri, 2001: 160).
Dalam komunikasi antarbudaya, juga
penting mencapai apa yang komunikator dan komunikan harapkan yaitu komunikasi
efektif. Komunikasi yang efektif tergantung pada tingkat kesamaan makna yang
didapat partisipan yang saling bertukar pesan. Fisher berpendapat, untuk
mengatakan bahwa makna dalam komunikasi tidak pernah secara total sama untuk
semua komunikator, adalah dengan tidak mengatakan bahwa komunikasi adalah
sesuatu yang tak mungkin atau bahkan sulit tapi karena komunikasi tidak
sempurna (Gudykunst dan Kim, 2003: 269-270).
Jadi
untuk mengatakan bahwa dua orang berkomunikasi secara efektif maka keduanya
harus meraih makna yang relatif sama dari pesan yang dikirim dan diterima
(mereka menginterpretasikan pesan secara sama). Sedangkan komunikasi yang tidak
efektif dapat terjadi karena berbagai alasan ketika kita berkomunikasi dengan
orang lain. Kita mungkin tidak mengirim pesan kita dengan cara yang dapat
dipahami oleh orang lain atau orang lain mungkin salah menginterpretasikan apa
yang kita katakan atau keduanya dapat terjadi secara bersamaan. Masalahnya
dapat terjadi karena pengucapan, tata bahasa, kesamaan dengan topik yang sedang
didiskusikan atau kesamaan dengan bahasa asli orang lain tersebut, bahkan
faktor sosial. Misalnya kita mengerti mereka karena mereka menggunakan bahasa
kita tapi kita sendiri tidak mengerti bahasa mereka. Bahkan ketika
berkomunikasi dengan orang lain dan mendasarkan interpretasi kita pada sistem
kita maka komunikasi yang tidak efektiflah yang terjadi. Kesimpulannya,
komunikasi yang efektif dalam berkomunikasi dengan orang lain kita harus penuh
perhatian dan sadar. Sebagai komunikator yang kompeten, berkomunikasi secara
efektif dan tepat merupakan aspek penting untuk diamati. Kita bisa
berkomunikasi secara efektif walaupun kita tidak dilihat sebagai komunikator
yang kompeten (Gudykunst dan Kim, 2003:270-271). Dalam komunikasi antarbudaya
tentunya perbedaan budaya menjadi tantangan untuk mencapai komunikasi yang efektif
dan untuk itu penting bagi partisipan mengetahui identifikasi bersama
(homofili).
Karakteristik Komunikasi Lintas Budaya
1.
Komunikasi dan bahasa
Sistem
komunikasi, verbal dan non- verbal, satu unsur yang membedakan satu kelompok
dengan kelompok lainnya. Ada sekitar 15 bahasa utama atau lebih dan tiap
–tiapnya terdapat dialek, logat, jargon dan ragam lainnya. Belum lagi gerak
gerik bahasa tubuh yang mingkin universal namun beda makna secara lokal atau
kultural.
2.
Pakaian dan penampilan
Meliputi pakaian,
perhiasan dan dandanan. Pakaian ini akan menjadi ciri yang menandakan seseorang
berasal dari daerah mana. Atau ciri lukisan pada muka dan badan orang Papua
atau orang Indian yang ada saat akan berperang menandakan keberanian.
3.
Makanan dan kebiasaan makan
Ciri ini
menyangkut hal dalam pemilihan, penyajian, dan cara makan. Dilarangnya seorang
muslim untuk mengkonsumsi daging babi, tidak berlaku bagi mereka orang Cina.
Orang Sunda terkesan senang makan tanpa alat sendok (tangan saja) akan terlihat
kurang sopan bagi mereka orang – orang barat.
4.
Waktu dan kesadaran akan waktu
Hal ini
menyangkut pandangan orang akan waktu. Sebagian orang tepat waktu dan sebagian
lain berpandangan merelatifkan waktu. Ada orang yang tidak mempedulikan jam
atau menit tapi hanya menandai waktunya dengan saat matahari terbit atau saat
matahari terbenam saja
5.
Penghargaan dan Pengakuan
Suatu cara
untuk mengamati suatu budaya adalah dengan memperhatikan cara dan metode
memberikan pujian bagi perbuatan-perbuatan baik dan berani, lama pengabdian
atau bentuk-bentuk lain penyelesaian tugas.
6.
Hubungan-Hubungan
Budaya juga
mengatur hubungan-hubungan manusia dan hubungan-hubungan organisasi berdasarkan
usia, jenis kelamin, status, kekeluargaan, kekayaan, kekuasaan, dan
kebijaksanaan.
7.
Nilai dan Norma
Berdasarkan
sistem nilai yang dianutnya, suatu budaya menentukan norma-norma perilaku bagi
masyarakat yang bersangkutan. Aturan ini bisa berkenaan dengan berbagai hal,
mulai dari etika kerja atau kesenangan hingga kepatuhan mutlak atau kebolehan
bagi anak-anak; dari penyerahan istri secara kaku kepada suaminya hingga
kebebasan wanita secara total.
8.
Rasa Diri dan Ruang
Kenyamanan
yang dimiliki seseorang atas dirinya bisa diekspresikan secara berbeda oleh
masing-masing budaya. Beberapa budaya sangat terstruktur dan formal, sementara
budaya lainnya lebih lentur dan informal. Beberapa budaya sangat tertutup dan
menentukan tempat seseorang secara persis, sementara budaya-budaya lain lebih
terbuka dan berubah.
9.
Proses mental dan belajar
Beberapa
budaya menekankan aspek perkembangan otak ketimbang aspek lainnya sehingga
orang dapat mengamati perbedaan-perbedaan yang mencolok dalam cara orang-orang
berpikir dan belajar.
10.
Kepercayaan dan sikap
Semua budaya tampaknya
mempunyai perhatian terhadap hal-hal supernatural yang jelas dalam agama-agama
dan praktik keagamaan atau kepercayaan mereka.
Budaya
Budaya adalah suatu cara hidup yang
berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari
generasi ke generasi.Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian
tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya
diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan
menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.
Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak,
dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif.
Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial
manusia.
Beberapa alasan mengapa orang
mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain terlihat
dalam definisi budaya: Budaya adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang
dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya
sendiri.”Citra yang memaksa” itu mengambil bentuk-bentuk berbeda dalam berbagai
budaya seperti “individualisme kasar” di Amerika, “keselarasan individu dengan alam” di Jepang dan “kepatuhan kolektif” di Cina.
Citra budaya yang bersifat memaksa
tersebut membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang
layak dan menetapkan dunia makna dan nilai logis yang dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling
bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka.
Dengan belajar memahami komunikasi antarbudaya berarti memahami realitas budaya
yang berpengaruh dan berperan dalam komunikasi. Kita dapat melihat bahwa proses
perhatian komunikasi dan kebudayaan yang terletak pada variasi langkah dan cara
berkomunikasi yang melintasi komunitas atau kelompok manusia. Fokus perhatian
studi komunikasi dan kebudayaan juga meliputi bagaimana menjajaki makna,
pola-pola tindakan, juga tentang bagaimana makna dan pola-pola itu
diartikulasikan ke dalam sebuah kelompok sosial, kelompok budaya, kelompok
politik, proses pendidikan, bahkan lingkungan teknologi yang melibatkan
interaksi manusia (Liliweri, 2004: 10).
Menurut Ting Toomey, budaya sebagai komponen
dari usaha manusia untuk bertahan hidup (survive) dan berkembang dalam
lingkungan partikular mereka, memiliki beberapa fungsi, yaitu: Identity
Meaning Function yaitu budaya memberikan kerangka referensi untuk menjawab
pertanyaan paling mendasar dari keberadaan manusia ‘siapa saya’, Group
Inclusion Function yaitu budaya menyajikan fungsi inklusi dalam kelompok
yang bisa memuaskan kebutuhan seseorang terhadap afiliasi keanggotaan dan rasa
ikut memiliki, Intergroup Boundary Regulation Function yaitu fungsi
budaya sebagai pembentuk sikap seseorang tentang in-group dan out-group
berkaitan dengan orang yang secara kultural tidak sama, The Ecological
Adaptation Function yaitu fungsi budaya dalam memfasilitasi proses-proses
adaptasi di antara diri, komunitas kultural dan lingkungan yang lebih besar, The
Cultural Communication Function yaitu koordinasi antara budaya dengan
komunikasi, budaya mempengaruhi komunikasi dan komunikasi mempengaruhi budaya.
Ringkasnya, budaya diciptakan, dibentuk, ditransmisikan dan dipelajari melalui
komunikasi; sebaliknya praktik-praktik komunikasi diciptakan, dibentuk dan
ditransmisikan melalui budaya (Rahardjo, 2005: 49-51).
Menurut Kim, asumsi yang mendasari
batasan tentang komunikasi antarbudaya adalah bahwa individu-individu yang
memiliki budaya yang sama pada umumnya berbagi kesamaan-kesamaan dalam
keseluruhan latar belakang pengalaman mereka daripada orang yang berasal dari
budaya yang berbeda. Dengan memberikan penekanan baik kepada
perbedaan-perbedaan kultural yang sesungguhnya maupun perbedaan-perbedaan
kultural yang dipersepsikan antara pihak-pihak yang berkomunikasi, maka
komunikasi antarbudaya menjadi sebuah perluasan bagi studi komunikasi
antarpribadi, komunikasi organisasi dan kawasan-kawasan studi komunikasi antarmanusia
lainnya. Jadi komunikasi antarbudaya merujuk pada fenomena komunikasi dimana
partisipan yang berbeda latar belakang kultural menjalin kontak satu sama lain
secara langsung maupun tidak langsung. Ketika komunikasi antarbudaya
mempersyaratkan dan berkaitan dengan kesamaan-kesamaan dan perbedaan-perbedaan
kultural antara pihak-pihak yang terlibat maka karakteristik-karakteristik
kultural dari para partisipan bukan merupakan fokus studi. Titik perhatian dari
komunikasi antarbudaya adalah proses komunikasi antara individu dengan individu
dan kelompok dengan kelompok (Rahardjo, 2005: 53-54).
Jadi melalui budaya kita bertukar dan
belajar banyak hal, karena pada kenyataannya siapa kita adalah realitas budaya
yang kita terima dan pelajari. Untuk itu, saat komunikasi menuntun kita untuk
bertemu dan bertukar simbol dengan orang lain, maka kita pun dituntut untuk
memahami orang lain yang berbeda budaya dan perbedaan itu tentu menimbulkan
bermacam kesukaran dalam kelangsungan komunikasi yang terjalin. Memahami budaya yang berbeda dengan kita juga
bukanlah hal yang mudah, dimana kita dituntut untuk mau mengerti realitas
budaya orang lain yang membuat ada istilah ‘mereka’ dan ‘kita’ dalam situasi
seperti itulah manusia dituntut untuk mengungkap identitas orang lain. Dalam
kegiatan komunikasi, identitas tidak hanya memberikan makna tentang pribadi
individu, lebih dari itu identitas menjadi ciri khas sebuah kebudayaan yang
melatarbelakanginya. Dari ciri khas itulah nantinya kita dapat mengungkapkan
keberadaan individu tersebut. Dalam artian sederhana, yang dimaksud dengan
identitas budaya adalah rincian karakteristik atau ciri-ciri sebuah kebudayaan
yang dimiliki oleh sekelompok orang yang kita ketahui batas-batasnya tatkala
dibandingkan dengan karakteristik atau ciri-ciri kebudayaan orang lain
(Liliweri, 2003: 72).
Indonesia
sebagai negara kepulauan, dikenal luas sebagai bangsa yang terdiri dari sekitar
300 suku bangsa yang memiliki identitas kebudayaan masing- masing. Penduduk
Indonesia tentunya terdiri dari berbagai suku bangsa yang memiliki daerah asal
dan kebudayaannya sendiri dan telah berakar sejak berpuluh-puluh tahun yang
silam. Keberagaman suku dan budaya yang ada di Indonesia menjadi salah satu
ciri khas masyarakat Indonesia. Sehingga dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara kita tidak terlepas dari adanya benturan-benturan perbedaan
kebudayaan antara satu daerah dengan daerah lain, suatu kelompok masyarakat
dengan kelompok masyarakat lainnya, hingga benturan kebudayaan antara
masing-masing individu dengan latar belakang adat istiadat, budaya dan
nilai-nilai yang berbeda pula. Masing-masing etnis yang ada di Indonesia tentu
memiliki keunikan dan kekhasan masing-masing, salah satunya adalah etnis
Minangkabau. Salah satu hal yang membuatnya unik dalam kajian komunikasi
antarbudaya ini adalah budaya merantau. Dimana setiap perantau ketika melakukan
interaksi akan mendapati perbedaan-perbedaan budaya mereka dengan budaya di
lingkungan perantauannya dan mereka selalu dituntut untuk tetap bisa
mempertahankan identitas budaya mereka sebagai bagian dari etnis Minangkabau
yang lebih lanjut disebut orang Minang.
Pentingnya
Komunikasi Lintas Budaya
Dengan melihat perkembangan atau tren yang ada saat ini, komunikasi bisnis
lintas budaya sangat penting artinya bagi terjalinnya harmonisasi bisnis di
antara mereka. Bagaimanapun diperlukan suatu pemahaman bersama antara dua orang
atau lebih dalam melakukan komunikasi lintas budaya, baik melalui tulisan
maupun lisan. Semakin banyaknya pola kerja sama maupun kesepakatan ekonomi di
berbagai kawasan dunia saat ini akan menjadikan komunikasi bisnis lintas budaya
semakin penting.
Pendek kata, dengan semakin
terbukanya peluang perusahaan multinasional masuk ke wilayah suatu negara dan
didorong dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi komunikasi dan
informasi, maka pada saat itulah kebutuhan akan komunikasi bisnis lintas Budaya
menjadi semakin penting artinya.
Komunikasi dengan Orang yang
Berbudaya Asing
1.
Belajar Tentang Budaya
Ketika tinggal di negara lain alangkah baiknya seseorang sedikit banyak
mengenal budaya maupun adat istiadat yang berlaku dinegara tersebut. Mengenal
beberapa kata bahasa asing untuk seatu pergaulan di lingkuang bisnis merupakan
langkah baik yang senantiasa perlu dikembangkan. Jadi belajar tentang budaya negara
lain juga bisa dijadikan sebagai langkah awal untuk berkomunikasi dengan orang
yang berbudaya asing.
2.
Mengembangkan Ketrampilan Komunikasi
Lintas Budaya
Mempelajari apa yang dapat dilakukan oleh seorang tentang budaya tertentu
sebenarnya merupakan cara yang baik untuk menemukan bagaiman mengirim dan
menerima pesan-pesan lintas budaya secara efektif. Mempelajari ketrampilan komunikasi lintas budaya pada
umumnya akan membantu seseorang beradaptasidalam setiap budaya, khususnya jika
seseorang berhubungan dengan orang lain yang memiliki budaya berbeda.
3.
Negosiasi Lintas Budaya
Membedakan budaya dalam dua kelompok yaitu budaya permukaan (surface
culture) seperti makanan, liburan, gaya hidup, dan buday tinggi (deep culture),
yang terdiri atas sikap nilai-nilai yang menjadi dasar budaya tersebut. Orang yang berasal dari budaya yang berbeda seringkali
mempunyai pendekatan negosiasi yang berbeda. Tingkat toleransi untuk suatu
ketidaksetujuan pun bervariasi. Seseorang harus dapat menumbuhkan hubungan
personal sebagai dasar membangun kepercayaan dalam proses negosiasi. Negosiator dari budaya yang berbeda mungkin
menggunakan teknik pemecahan masalah dan metode pengambilan keputusan yang
berbeda. Jika mempelajari budaya partner sebelum bernegosiasi, akan lebih mudah
untuk dapat memahami pandangan mereka. Menunjukkan sikap yang luwes, hormat,
sabar dan sikap bersahabat akan membawa pengaruh yang baik bagi proses
negosiasi yang sedang berjalan, yang pada akhirnya dapat ditemukan solusi yang
menguntungkan kedua belah pihak.
DAFTAR PUSTAKA
Effendy, Onong
Uchjana, Ilmu Komunikasi, Djilid 19, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2005.
Liliweri, Alo,
Strategi Komunikasi Masyarakat, LkiS, 2004.
Gudykunst, B
Wiliam, Cross Cultural and Intercultural Communication, 2003.
Purwanto, Djoko,
Komunikasi Bisnis, Edisi Ketiga, Eirlangga, Surakarta, 2006



0 komentar:
Posting Komentar